Aku adalah seorang yang lahir dan tumbuh besar di keluarga katolik. Aku dididik bahwa setiap kisah dalam hidupku merupakan perhentian dan persinggahan sementara untuk mengenal dan merasakan cinta kasih Allah lewat segala sesuatu. 2017 merupakan persinggahanku untuk mengenal Allah lebih dekat melalui komunitas Magis. Setelah selama 10 bulan mempersiapkan dan dipersiapkan, kami yang masih setia bertahan akan dilepas untuk peregrinasi. Sebuah perjalanan yang ditempuh dengan jalan kaki selama tiga hari dua malam tanpa bekal apapun kecuali baju ganti secukupnya, buku doa dan keberserahan diri akan karya penyelamatan Allah yang selalu bekerja untuk kami.

Sebelum berangkat, rasa takut dan was-was datang menghampiri. Takut karena aku akan dilepaskan dari segala hal-hal pokok yang membuatku merasa aman. Was-was karena aku takut tidak bisa kembali tepat waktu dan mengabari keluarga dan tunanganku bahwa aku baik-baik saja. Kuatir kalau semua rencanaku yang kususun seminggu ke depan tidak berjalan sesuai rencana dan mengecewakan orang yang sudah mengundangku, yang percaya akan kedatanganku. Mengaburkan harapan imaginatif kesenangan yang bakal kuperoleh atas lancarnya semua hal yang telah kurencanakan dengan baik.

Tetapi keyakinan diri bahwa aku akan baik-baik saja membuatku tetap bertahan untuk mengalahkan segala kekuatiranku yang tak beralasan ini. Toh cuma jalan, toh masih di Jawa dan toh pasti aku beruntung seperti biasanya karena aku percaya Allah selalu mendampingi dan memberkatiku. Ditambah dengan segala materi persiapan dan nyanyian pengantar dari para alumnus Magis, membuatku semakin tenang dan ya, aku sudah ada di sini, aku sudah sampai di sini, ini liburanku dari segala hiruk pikuk dunia (kerja dan internet), ini peziarahanku, ya tinggal aku lakukan dan aku yakin semua akan baik-baik saja. Sehingga keyakinan ini pun menjadi slogan grup tiga kami: “Sing Penting Yakin!”, yakin dengan 100% usaha manusia akan membuahkan hasil 100% rahmat Allah. 100% usaha manusia, 100% rahmat Allah.

Hari-H pun telah tiba, akhirnya kami bertiga mengetahui tujuan peziarah peregrinasi kami, yaitu ke Goa Maria Rosa Mystica dari Magelang melalu rute Mertoyudan – Pakis – Kopeng – Salatiga – Tuntang. Peziarahan kami pun dimulai, kami berangkat menuju ke Mertoyudan dengan bus. Sesampainya di sana kami mempersiapkan diri dengan doa dan benar-benar memulai perjalanan dari Seminari Tinggi Mertoyudan.

Perjalanan hari pertama lancar, sukses besar. Kami berlimpah akan berkah dan rahmat dari Allah. Ketika kami haus, dengan sukarela warga setempat memberikan air minumnya kepada kami, begitu hujan tepat di depan kami ada tempat berteduh sekalian untuk berexamen dan jurnaling, bahkan malamnya kami mendapatkan berkah yang luar biasa dengan diketemukan dengan keluarga Pak Pardjo. Keluarga katolik yang taat, yang bersedia dengan sepenuh hati menerima kami bertiga untuk bermalam di hari pertama kami. Kami tidak hanya mendapat tempat untuk bermalam dengan tempat yang empuk dan hangat, tetapi juga mendapat makan malam dan sarapan yang sungguh mengenyangkan kami. Sebelum makan dan selepas kami ingin berangkat melanjutkan perjalanan kami, kami pun masih didoakan. Kami doa bersama dengan dipimpin oleh Pak Pardjo. Sungguh hal yang luar biasa yang mana secara pribadi benar-benar tak terduga. Semoga Allah selalu memberkati Pak Pardjo sekeluarga, agar senantiasa menjadi berkat untuk orang-orang sekitar, menjadi perpanjangan cinta kasih Allah di dunia ini.

Perjalanan hari kedua pun cukup lancar. Aku ingat jika hari ini adalah hari di mana kami bisa berjalan sehari penuh. Rencanaku adalah minimal sudah sampai hampir ke Kalicacing, Salatiga atau bahkan sampai ke tujuan kami, Goa Maria Rosa Mystica Tuntang. Karena jalanan sudah mulai mendatar dan menurun kembali, aku yakin kami bisa berjalan lebih cepat atau malah mungkin jalan cepat ketika turunan. Tetapi apa daya. Salah satu teman malah sakit kakinya. Alhasil kami hanya sampai ke Goa Maria Pereng. Kami menginap di sini. Jujur awalnya kesal dan marah. Kesal dan marah bukan kepada temanku, tapi masih kepada kenapa situasinya begini, tidak sesuai dengan rencana. Kami ditolak menginap, bahkan oleh keluarga katolik. Kami pun sudah memohon atau ujub agar hari ini kami sampai di lokasi di Tuntang untuk bermalam di sana. Tapi tak terkabulkan. Aku kesal tapi kembali ber-discernment, melihat dan menyadari situasi yang tidak memungkinkan. Menerima situasi ini dan mulai bersyukur. Ada benarnya juga kami tadi ditolak. Kami jadi bisa sampai di Goa Maria juga, walau bukan Rosa Mystica Tuntang, tetapi Goa Maria Pereng Kopeng. Kami pun bisa beristirahat di sini untuk mengumpulkan tenaga lagi. Kami bisa berdoa di tempat yang tepat untuk kami berdoa, bahkan jika dipikir lebih dalam, kami bisa mulai jalan lagi lebih awal jika kami menginap di Goa Maria ini, bukan menginap di rumah orang yang pasti perlu basa-basi dan baru bisa keluar di atas jam 7 pagi. Untungnya lagi semua setuju dan kami membulatkan tekad untuk beristirahat penuh kemudian bangun benar-benar subuh untuk memulai jalan lagi pada pukul 4 pagi. Syukur atas rahmat-Mu ini ya Allah yang penuh cinta.

Perjalanan hari ketiga dimulai sesuai rencana. Aku bangun pukul tiga dini hari untuk berdoa terlebih dahulu, kemudian membangunkan temen lain, berdoa memulai peziarahan bersama dan akhirnya memulai perjalanan lagi tepat pukul empat pagi. Aku sedikit mulai pesimis tentang perjalanan kami ketika setelah berjalan kurang dari setengah jam temanku sudah mengeluhkan kakinya yang kembali sakit. Jujur aku tak masalah jika malam nanti baru sampai ke Goa Maria Rosa Mystica dan baru pulang esoknya, senin pagi. Tetapi yang jadi masalah adalah aku harus segera menghubungi ke panitia kalau kami baik-baik saja agar jika ada kerabat yang menanyakan tahu jelas kami di mana. Aku kuatir kalau aku bakal dikuatirkan orang lain, yakni keluargaku dan tunanganku. Lebih lagi, sebisa mungkin kami bisa pulang malam ini. Dalam doa dan keyakinan disertai semangat untuk menyemangati dua temanku yang lain, aku terus berjalan maju. Awalnya aku di belakang, akhirnya aku berjalan di depan. Mengukur dan menghitung semuanya. Agar kami sampai tepat waktu, syukur bisa pulang malam ini. Semoga.

Emosi ketidaksabaranku mulai keluar ketika temanku yang sakit kakinya berjalan dengan tetap lambat. Aku pernah di posisinya, tertinggal di belakang dengan sakit di kaki, tetapi aku tidak tahu bagaimana perspektif temanku ini untuk menghadapi situasinya sekarang. Kalau aku, walau sakit, tetap yakin maju terus dengan berjalan tidak selambat itu. Tapi yah gimana lagi: pengalaman, perspektif dan situasi setiap orang berbeda-beda, tidak dapat aku paksakan. Alih-alih aku larut dalam emosiku, aku salurkan emosiku dengan selalu mencoba mencari solusi, menawarkan berbagai cara jalan kaki alternatif kepadanya agar dia dapat terus berjalan melanjutkan perjalanan ini tepat waktu.

Tetapi emosiku akhirnya tak terbendung lagi ketika kami mencoba mencari jalur alternatif dan bertanya ke penduduk setempat kalau jalan alternatif kami katanya lebih jauh dari jalur besar yang sebenarnya. Kami terlanjur menempuh jalan alternatif ini atas anjuran penduduk setempat sebelumnya. Asu! Bajingan! Aku mengumpat, aku marah, emosiku meluap-luap. Kuluapkan semua emosiku dengan kata-kata kasar ke udara. Aku marah dan kesal bukan kepada teman-temanku, tetapi kepada situasi yang tak sesuai dengan rencanaku. Minimal aku ingin bisa sampai maksimal sore ini di tempat tujuan. Aku harus bisa menghubungi segera keluarga dan tunanganku kalau aku baik-baik saja. Temanku yang lain juga harus praktikum besok senin pagi, sedang temanku yang lain kakinya masih sakit sekali. Aku yang melihat mereka lelah harus segera mengambil keputusan untuk terus melewati jalur alternatif ini atau kembali lagi ke jalan besar, ber-discernment kembali. Kuputuskan untuk lanjut jalur alternatif, dan ternyata yang mengatakan jalur alternatif ini lebih jauh karena tidak ada ojek yang mengantarkan kami ke sana. Padahal niat kami jalan kaki. Orang yang mengatakan kalau kami baru akan sampai ke tempat tujuan di sore hari pun sepertinya terlalu berlebihan dan aku dikuatkan hal ini oleh temanku. Kami saling menguatkan dalam sikap hening kami. Jadi, keputusanku untuk lanjut jalur alternatif ini tidak salah.

Berjalan dan berjalan, mungkin ada lebih dari 10 km lagi akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Kelegaan dan kepuasan yang amat besar kami dapatkan. Setelah di hari ini kami jalan 10 jam, kami sampai ke Goa Maria Rosa Mystica tepat pukul 2 siang. Rasanya senang dan puas sekali. Syukur kepada-Mu ya Allah karena Engkau menyelamatkan dan mendampingi kami untuk sampai di sini. Terima kasih kepadamu ya Bunda Maria atas terkabulnya ujub kami agar sampai di sini melalui doa Rosario. Terima kasih. Kebahagiaan kami ini membuat kami lupa waktu dan malah terlalu santai di tempat ini. Lebih dari itu, disamping sangat bersyukur aku malah merasa amat bersalah karena emosiku yang amat memuncak tadi siang. Ketika aku merasa tak berdaya, ketika aku merasa semua usaha 100%-ku melalui rencanaku seperti tidak terkabulkan oleh-Mu ya Allah, ketika keinginanku yang pastinya kecil bagi-Mu ini sepertinya tak Engkau kabulkan. Ampuni aku yang sempat meragukan 100% rahmat Allah.

Pengalaman ini membuatku merefleksikan ke hidupku yang sebenarnya. Ketika aku sudah merasa benar-benar berusaha 100%. Ketika aku sudah benar-benar merencanakannya dengan matang bahkan dengan doa, segala macam persiapannya, rencana cadangan dan bahkan toleransi kegagalannya. Ketika aku berfikir bahwa 100% rahmat Allah adalah hasil nyata sesuai dengan bayanganku. Tetapi ternyata 100% hasil rahmat Allah berbeda dengan yang kuharapkan. Apakah aku siap? Jika itu Anda, apakah Anda siap?

Ya, aku siap menerima itu ya Allah. Karena hidup itu tentang berusaha 100% dan menerima apapun hasilnya dengan lapang dada 100%, menyadari dengan hati dan budi bahwa itulah 100% rahmat Allah. 🙂

Sending
User Review
0 (0 votes)
https://images.pexels.com/photos/211047/pexels-photo-211047.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&dpr=2&h=650&w=940https://images.pexels.com/photos/211047/pexels-photo-211047.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&dpr=2&h=650&w=940simonndanuCoretan100%,kontemplasi,rahmat Allah,refleksi,renungan,usaha manusiaAku adalah seorang yang lahir dan tumbuh besar di keluarga katolik. Aku dididik bahwa setiap kisah dalam hidupku merupakan perhentian dan persinggahan sementara untuk mengenal dan merasakan cinta kasih Allah lewat segala sesuatu. 2017 merupakan persinggahanku untuk mengenal Allah lebih dekat melalui komunitas Magis. Setelah selama 10 bulan mempersiapkan...perspektif picik pelaku penulis picisan
Mari bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •