Sekolah Menengah Atas Kolese De Britto, sekolah yang berdiri 70 tahun yang lalu, sehingga tahun ini merayakan Lustrum XIV, mengadakan banyak rentetan acara. Salah satu acara tersebut adalah seminar yang diprakarsai oleh para alumni De Britto. Seminar ini bertema “Harmoni Dalam Keberagaman”. Tema ini diangkat sebagai sumbang sih De Britto dalam menghadapai konflik isu dalam plurarisme yang sangat marak baru-baru ini di Indonesia. Apalagi menjelang pemilu, sehingga isu dalam plurarisme seperti intoleransi akan SARA sering digunakan sebagai alat untuk memperoleh kekuasan.

Bagaimanakah kita sebagai anak bangsa memelihara semua perbedaan yang ada di negeri ini? Bagaimana usaha kita dalam menciptakan harmoni dalam keberagaman?

Menurut studi yang disampaikan oleh Mbak Alissa Wahid, sebenarnya penyebab konflik sosial di Indonesia dimulai dari sikap eksklusif yang berkembang menjadi sikap intoleransi. Sikap intoleransi ini lama kelamaan menciptakan diskriminasi yang kemudian menciptakan konflik sosial di masyarakat. Hal ini dipupuk kembangkan oleh kepentingan politik kekuasan, karena memang lahan subur untuk memanfaatkan rakyat Indonesia memang di sini: eksklusifisme mayoritas-minoritas yang menjadi dasar intoleransi.

Lalu bagaimanakah kita pintar menghadapi kepentingan-kepentingan yang merusak itu? Berikut banyak poin yang dapat saya rangkum dalam seminar Harmoni Dalam Keberagaman ini:

  1. Menyadari dulu bahwa keberagaman adalah kehendak dari Sang Pencipta agar kita dapat saling melengkapi. Kalau Tuhan mau, Tuhan akan menciptakan kita semua sama, tetapi justru karena Tuhan Mahakuasa itulah Tuhan menciptakan tak ada satupun yang sama di antara kita untuk dapat saling membantu, saling melengkapi dan berwarna indah.
  2. Dukungan kepada pemerintah dalam mengusahakan keadilan sosial yang merata sehingga tak ada kelompok atau golongan yang merasa didiskriminasi. Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan infrastruktur yang merupakan tulang punggung agar keadilan sosial dan peningkatan ekonomi dapat tercapai.
  3. Penegakan hukum yang tidak pandang bulu, memiliki dan mendapatkan perlindungan sesuai hukum yang ada, memenuhi unsur pidana dan mengutamakan asas pemanfaatan demi kepentingan yang lebih besar. Kita perlu mendukung aparat yang telah berusaha keras mengatasi intoleransi yang ada dengan prinsip-prinsip tersebut.
  4. Pendidikan karakter sejak dini. Bukan bertanya dan menuntut bagaimanakah sebaiknya generasi muda bertindak untuk memelihara harmoni dalam keberagaman, tetapi kembali ke diri sendiri, bagaimanakah kita menjadi orang tua yang dapat mendidik anak-anak kita, generasi lebih muda penerus bangsa untuk memelihara harmoni dalam keberagaman ini.
  5. Membangun komunikasi yang sehat antar kelompok yang berbeda, misal antara umat muslim dan umat kristiani. Sehingga dapat mengikis sindrom atau ketakutan-ketakutan berlebihan akan konfik yang belum tentu atau bahkan tak akan terjadi.
  6. Memupuk rasa memiliki Indonesia, kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Nasionalisme yang tinggi. Contoh konkret dengan berprestasi di kancah internasional di bidang apa saja terutama yang paling umum dikenal adalah bidang olahraga, Thomas Cup, kejuaraan bulutangkis internasional. Karena saat ada yang berprestasi dengan nama Indonesia di mata dunia, kita tak akan menanyakan asal-usul peraih prestasi tersebut, kita tahunya hanya ikut bangga. Ini yang memupuk kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia.
  7. Terakhir, tapi tidak terkurang. Bijak dalam berliterasi. Hal ini tidak disampaikan langsung oleh pembicara, tetapi sedikit disinggung oleh Pak Agus Prih dalam sambutannya sebagai Kepala Sekolah SMA Kolese De Britto saat ini. Bijak berliterasi adalah bagaimana kita bijak dalam memilah dan memilih berita atau sumber-sumber yang dapat dipercaya kebenarannya. Lalu juga menimbang dengan bijak perlukah kita ikut menyebarkannya?

Semoga kita semua dapat menjadi agen perubahan yang memelihara harmoni dalam keberagaman. Salam Keberagaman! Salam Persatuan! Salam Nusantara! Salam Indonesia!

Simon Megadewandanu (JB’08)

https://simonndanu.info/wp-content/uploads/2018/07/Lustrum-Kolese-De-Britto-XIV-1024x695.jpeghttps://simonndanu.info/wp-content/uploads/2018/07/Lustrum-Kolese-De-Britto-XIV-150x150.jpegsimonndanuCoretanalumni,De Britto,harmoni,keberagaman,lustrum,pluralisme,seminarhttps://www.youtube.com/watch?v=JfQJfe1jaK0 Sekolah Menengah Atas Kolese De Britto, sekolah yang berdiri 70 tahun yang lalu, sehingga tahun ini merayakan Lustrum XIV, mengadakan banyak rentetan acara. Salah satu acara tersebut adalah seminar yang diprakarsai oleh para alumni De Britto. Seminar ini bertema 'Harmoni Dalam Keberagaman'. Tema ini diangkat sebagai sumbang sih De Britto dalam...perspektif picik pelaku penulis picisan
Mari bagikan
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares