Restoran baru yang muncul menggantikan Indomaret Timoho pertama di barat jalan ini menarik perhatian saya. Alasan utama bukan karena warna restoran yang dominan merah yang merupakan warna favorit saya, tapi lebih karena ada kata steak yang dapat merangsang imajinasi saya melayang pada hotplate dengan daging panas siap santap di atasnya. Restoran yang berfokus pada menu sambal dan steak ini berada di:

Kebetulan jalan menuju rumah Tunangan bisa dan sering lewat jalan Timoho. Sehingga akhirnya saat kami berdua akan pergi kumpul bersama sahabat-sahabat kami, kami sempatkan mampir dan makan dulu di sini karena lapar. Sesampainya di sana dan parkir di parkiran yang cukup luas, kami disambut dengan baik dan diberikan menu oleh pramusaji restoran ini. Berikut daftar 1 lembar menu bolak balik beserta suasana yang ada di restoran sambal dan steak ini:

Restoran ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti tempat cuci tangan dan juga tempat duduk yang bisa memilih antara lesehan ataupun kursi. Disambut dengan baik saat datang, dijelaskan menu dengan detail dan dibalas dengan senyuman terima kasih merupakan contoh pelayanan yang memuaskan yang ada di restoran ini. Setelah sedikit lama kami memilih-milih menu yang ingin kami santap untuk menghadang kelaparan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih beberapa menu di bawah ini:

Okay kesan pertama dari penampilan saat hidangan datang adalah: “Wogh ya lumayan, udangnya ga kecil-kecil amat juga. Peralatan serta saus tambahannya juga lengkap.” Kemudian setelah kami memakannya, terasa kurang. Bumbunya hambar, semua dominan tepung. Beda antara udang goreng tepung dan steak udang hanya terletak pada saus tambahannya. Saus itu adalah saus tiram yang tak terasa tiramnya, lebih banyak tepung kanjinya. Kurang asin. Sedangkan kelebihannya, udang yang disajikan selain tidak kecil juga dicuci dan dipotong bersih tanpa meninggalkan bagian kulit kerasnya.

Nasi yang disajikan dengan model dalam tempat nasi sendiri. Dengan porsi yang tidak terlalu sedikit, cukup untuk makan kenyang rata-rata orang. Untuk sambal cumi yang disajikan kurang greget. Memang pedas segar, tetapi hambar, tak asin dan tak manis. Sambal yang dibuat dengan cara diblender dengan mixer, kemudian diberikan 4 potong daging cumi.

Minuman yang kami pesan, yaitu Slaim Blue adalah percampuran antara pepsi dengan sirup dan es batu. Es batunya standar es batu matang, yaitu es kristal polar yang tengahnya bolong. Kekurangannya, perbandingan antar es dan minumannya tak sepadan. Terlalu banyak es yang dicampurkan ke dalam minuman ini. Sehingga jika tak cepat diminum, hanya akan mengurangi rasa sodanya menjadi hambar atau terlalu encer.

Saat membayar, awalnya kami mengira total biaya yang kami keluarkan untuk makan malam kali ini sekitar 50K. Ternyata lebih dari itu, setelah saya cek, masih ada PPN sebesar 10% yang harus ditambahkan. Apalagi saat saya menulis blog ini, saya baru sadar kalau ternyata harga sambal cumi di menu dan nota berbeda. Di menu tertera 3K sedangkan di nota 8K, entah yang benar di harga berapa, tapi jika tak segera dibenarkan, bisa dianggap seperti menipu pengunjung. Sehingga total yang harus kami bayarkan adalah 60,5K. Cukup mahal untuk makanan di kelasnya, karena dengan harga yang sama di tempat lain bisa dapat lebih enak atau mengenyangkan. Tetapi jika Anda bosan dengan makanan yang itu-itu saja, tidak ada salahnya mencoba makan di restoran ala sambal dan steak ini. Mungkin di Goebog Sambal & Steak ini ada menu lain lebih menjanjikan untuk dinikmati.

Happy Eating! 🙂

Penilaian
  • Penampilan
  • Rasa
  • Kenyang
  • Harga
  • Pelayanan
  • Suasana
  • Fasilitas
  • Kebersihan
3.3

Kesimpulan

Goebog Sambal & Steak mainstream dalam memasak masakannya. Masih perlu banyak peningkatan rasa agar tidak sekedar rasa tepung dan kenyang, apalagi dengan harga yang sedikit di atas rata-rata dengan tambahan PPN 10%. Untuk kebersihan makanan dan keramahan pelayanan sudah baik, perlu untuk terus dipertahankan.

Sending
User Review
0 (0 votes)
https://simonndanu.info/wp-content/uploads/2018/02/GSS-Cover-1024x782.jpeghttps://simonndanu.info/wp-content/uploads/2018/02/GSS-Cover-150x150.jpegsimonndanuKulinerkuliner,sambal,steak,ulasanRestoran baru yang muncul menggantikan Indomaret Timoho pertama di barat jalan ini menarik perhatian saya. Alasan utama bukan karena warna restoran yang dominan merah yang merupakan warna favorit saya, tapi lebih karena ada kata steak yang dapat merangsang imajinasi saya melayang pada hotplate dengan daging panas siap santap di atasnya. Restoran yang berfokus...perspektif picik pelaku penulis picisan
Mari bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •